1
Tetesan embun pagi membasahi
ranting dan dedaunan, kicau burung pun terdengar nyaring di telinga.seolah-olah
memanggil ku untuk beranjak dari tempat tidur ku...
Tok......tok.....tok...
“Nadia
sayang bangun udah siang, nanti telat berangkat sekolah nya”
“iya
bunda sayang Nadia udah
bangun kok”
Nadia
pun turun dari ranjang tempat tidur nya, menyambar handuk dan masuk ke kamar
mandi.
Suara
nyaring itu terdangar lagi yaitu suara
ibu Susan Hartono, ibunda Nadia Anjani Hartono memanggil –manggil Nadia
untuk sarapan pagi.
“Sayang
cepetan turun sarapan udah siap” disebelah tangga dengan memandang pintu
kamar Nadia
Tak selang berapa lama sesosok
wanita yang berpakaian rapi turun menginjak kan kaki nya di anak tangga. Nadia
adalah anak bapak Hartono, seoarang pemilik perkebunan teh terbesar di Bandung. Nadia adalah anak yang
tergolong sempurna di tambah dengan
kepintaran nya yang membuat orang memandang iri padanya.
***
“Nadia...Nadia...tunggu ...” berlari kecil untuk mengejar Nadia,suara lembut namun serak
mendayu yang sudah tak asing di telinga
nya,namun akhir nya ia pun menengok ke arah suara,setelah tau kalau itu sahabat
nya Sintia ia pun berhenti
“eehh
kamu sintia....” Nadia tersunyum manis
menyambut kedatangan sahabatnya
“iya
lah siapa lagi memang nya” sintai dengan nafas terengah-engah seperti habis di
kejar anjing
“eehh...kamu ikatan upacara tidak”
“iya
lah sayang ku... kenapa tidak..” membelai lembut wajah ayu Sintia
“tapi
kalau kejadian itu terjadi lagi gimana?” wajah Sintia berubah khawatir
“insya
Allah enggak kok.. kamu tenang aja lagi.ya udaha ayoo cepat bentar lagi bel
bunyi” katanya dengan sedikit menarik lengan Sintia
“iya
ayo...”
Langkah mereka pun di percepat
untuk menuju kelas X.1 .bel yang di
tunggu pun berbunyi,para siswa dan siswi pun berhamburan keluar kelas untuk
menuju ke lapangan.hari ini langit begitu tersenyum lebar sehingga panas nya
begitu menyengat kulit.Nadia yang memang dari kemarin tak enak badan merasa sudah
tak kuat untuk malanjut kan upacara pada pagi itu.wajah nya pucat keringat
dingin keluar mengucuri tubuh nya.Nadia merasa kesakitan di bagian dada kirinya
karna menahan rasa sakit itu bibir nya membiru dan akhir nya...
bbbbrrruuukkk........
tubuh nya terhempas ke bumi Nadia pinsan Sinta sebagai sahabat nya khuatir dan membawa nya ke UKS
bbbbrrruuukkk........
tubuh nya terhempas ke bumi Nadia pinsan Sinta sebagai sahabat nya khuatir dan membawa nya ke UKS
“Nadia
bangun.....bangun ....”mengikuti jejak kaki penjaga PMR yang membawa nya dengan
derai air mata.
dua jam berlalu Nadia masih tergeletak tak sadar kan diri.Sintia pun meminta ijin pada guru untuk membawa nya kerumah sakit..sesampai nya di RS Citra Marga Sintia pun bergegas untuk mencari Wartel untuk menghubungi Ayah dan Bunda Nadia.
dua jam berlalu Nadia masih tergeletak tak sadar kan diri.Sintia pun meminta ijin pada guru untuk membawa nya kerumah sakit..sesampai nya di RS Citra Marga Sintia pun bergegas untuk mencari Wartel untuk menghubungi Ayah dan Bunda Nadia.
“halo...
assalamu’laikum....”
“iya halo ,wa’alaikum salam,ma’af saya berbicara dengan siapa...?”
“iya halo ,wa’alaikum salam,ma’af saya berbicara dengan siapa...?”
“bik
Inem ya?ini Sintia bik!”
“iya
non ini bibik da apa ya non..?”
“bik
Ibu Susan dan bapak Hartono ada gak ya bik?”
“ohh...ada
non sebentar bibik panggilkan “
“Iya
bik cepetan ya”
Bik
inem pun memberikan ganggang telepon pada majikan nya
“siapa
bik?”
“non
sintia bik”
“Ada
apa ya bik”
“seperti
nya penting karena non sintia nya sambil nangis kebingungan”
“ya
udah bibik kembali bekerja lagi”
Bibik
pun pergi dan kembali mengerjakan pekerjaan nya
“Sintia
ada apa sayang”
“Bu.....Nadia...bu!”
suara Sintia di balik telepon yang terbata-bata
“iya ada apa dengan Nadia?”
“iya ada apa dengan Nadia?”
“dia
sekarang ada di rumah sakit Citra Marga”
“apa yang terjadi dengan nya nak....?”
“nanti Sintia ceritakan kalau ibu udah sampai”
“apa yang terjadi dengan nya nak....?”
“nanti Sintia ceritakan kalau ibu udah sampai”
Ibu Nadia pun bergegas keRS sesampia
nya di sana ibu susan Hartono bertanya pada suster dimana Nadia putri nya di rawat,setelah
suster memberi tahu ibu Hartono pun bergegas kekamar nya dan di lihat nya anak
nya tergeletak.
“ahhh....anak
ku”membelai rambut Nadia
“tante....!tante udah datang?”
“tante....!tante udah datang?”
“bagai
mana kejadian nya kenapa bisa seperti ini?”
“iya
Sintia akan ceritain semuanya tapi tante harus tenang dulu”
“bagai
mana tante bisa tenang Nadia terlalu sering seperti ini “
Sintia menceritakan semua nya dari
awal,selang berapa dari Sintia bercerita dokter pun masuk dan memberikan hasil
tes..
“apa yang sebenar nya terjadi dengan anak saya dokter?”
“apa yang sebenar nya terjadi dengan anak saya dokter?”
“
mari bu ikut saya keruangan saya...!”berjalan menuju rangan dokter
“dari
hasil tes darah,terbukti kalau anak ibu positif terkena pembengkakan jantung
kronis”
“apa
dok...!dokter tidak salah periksa?” bunda menanyakan sekali lagi karena belum
yakin anak nya memiliki penyakit yang begitu mengerikan
“itu
lah hasil nya bu...!saya harap ibu dapat tabah...”
Hati
ibu Hartono bagai tersambar petir,batin nya bagai teriris sembilu mendengar
anak semata wayang nya tak memiliki banyak umur.ibu Hartono keluar dengan derai
air mata,rasa haru mendera batin nya dan membuat nya tak mampu berjalan ke
kamar Nadia ‘apa yang harus saya lakukan ya Allah’ batin buda dengan air mata
yang setia menemani pipinya. Sintia yang mengetahui kalau Ibu Harton menangis
tersedu-sedu duduk diruang tunggu segera menghampiri nyadengan penuh tanya
“ada
apa ibu,kenapa ibu menangis,apa yang sebanar nya terjadi dengan Nadia?” Sintia
curiga jika terjadi sesuatu pada ssahabatnya dia bertanya dengan air mata yang
jatuh membasahi pipi nya
Ibu Hartono menceritakan semua yang
terjadi pada Nadia .hati Sintia bagai tersambar petir, mulut nya kaku dan
aliran darah nya seperti berhenti ketika dia mendenganrkan cerita bunsa tentang
penyakitnya, ia tak menyangka kalau sahabat karib nya yang dari dulu bersama
dan selalu ceria saat menjalai hidupnya kini dia harus menahan rasa sakit yang
tak pernah terbayangkan oleh bagaimana rasa sakit itu . Sintia pun berlari
menuju kamar Nadia lalu memeluk dan mencium nya, dan membuat nya terbangun. Ia
pun heran mengapa sahabat karib nya tiba-tiba mnangis sambil memeluk nya. Senyuman
manis nya melayang dibibir dengan lembut,sehingga membuat Sintia membalas
senyuman manis nya walau dalam hati nya terasa sakit’ apa yang terjadi padamu
suatu hari nanti Nadia, apa kamu akan terus tersenyum serti ini saat rasa saki
itu datang’ batin nya sambil memandang lekat wajah pucat sahabatnya
“kamu
kenpa menangis sayang ku?”
“aahh...euumm..aku
...” Sintia tersadar dari lamunan nya
“
aku nangis karena aku senang liat kamu udah bisa kembali siuman,dan aku di
izinin ibu dan bapak ke pesta tahunan sekolah lusa” jawab Sintia sekenanya
“Kalau
kamu gak ikut juga aku gak bakalan dateng!”
“Loh...kenapa
memang nya?”
“ya
karna kamu dan aku itu satu hati, kalau kamu gak dateng aku juga gak dateng!”
Sintia kembali mengeluarkan
senyuman paksaan,air matanya kembali turun dan dalam hati nya berkata”andai kan
waktu dapat di ulang kembali lebih baik aku yang sakit,aku gak tega liat Nadia
tergeletak pucat dengan selang yang tertanam di tubuh mu,Tuhan tolong hambamu
ini kuat kan hati ku,aku tak mau terlihat sedih dan tak berdaya dihadapan nya
dan aku tak ingin melihat dia terlalu lama tergeletak di sini dengan penyakit
yang akan menggerogoti senyum dan hari-hari nya”tangan nya mendekap erat
pergelangan tangan Nadia seolah tak ingin melihat sahabat karib nya pergi jauh
meninggalkan sejuta kenangan indah nya yang dari dulu sudah di tanam nya
bersama
***