Senin, 10 Maret 2014

Senja Izinkan Aku Bersamanya 1


                                                                        1

Tetesan embun pagi membasahi ranting dan dedaunan, kicau burung pun terdengar nyaring di telinga.seolah-olah memanggil ku untuk beranjak dari tempat tidur ku...
Tok......tok.....tok...
“Nadia sayang bangun udah siang, nanti telat berangkat sekolah nya”
“iya bunda sayang Nadia udah bangun kok”
Nadia pun turun dari ranjang tempat tidur nya, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
Suara nyaring itu terdangar lagi yaitu suara ibu Susan Hartono, ibunda Nadia Anjani Hartono memanggil –manggil Nadia untuk sarapan pagi.
“Sayang cepetan turun sarapan udah siap” disebelah tangga dengan memandang pintu kamar Nadia
Tak selang berapa lama sesosok wanita yang berpakaian rapi turun menginjak kan kaki nya di anak tangga. Nadia adalah anak bapak Hartono, seoarang pemilik perkebunan teh terbesar di Bandung. Nadia adalah anak yang tergolong sempurna  di tambah dengan kepintaran nya yang membuat orang memandang iri padanya.
 ***

“Nadia...Nadia...tunggu ...” berlari kecil untuk mengejar Nadia,suara lembut namun serak mendayu  yang sudah tak asing di telinga nya,namun akhir nya ia pun menengok ke arah suara,setelah tau kalau itu sahabat nya Sintia ia pun berhenti
“eehh kamu sintia....” Nadia  tersunyum manis menyambut kedatangan sahabatnya
“iya lah siapa lagi memang nya” sintai dengan nafas terengah-engah seperti habis di kejar anjing
“eehh...kamu ikatan upacara tidak”
“iya lah sayang ku... kenapa tidak..” membelai lembut wajah ayu Sintia
“tapi kalau kejadian itu terjadi lagi gimana?” wajah Sintia berubah khawatir
“insya Allah enggak kok.. kamu tenang aja lagi.ya udaha ayoo cepat bentar lagi bel bunyi” katanya dengan sedikit menarik lengan Sintia
“iya ayo...”
Langkah mereka pun di percepat untuk menuju kelas X.1 .bel  yang di tunggu pun berbunyi,para siswa dan siswi pun berhamburan keluar kelas untuk menuju ke lapangan.hari ini langit begitu tersenyum lebar sehingga panas nya begitu menyengat kulit.Nadia yang memang dari kemarin tak enak badan merasa sudah tak kuat untuk malanjut kan upacara pada pagi itu.wajah nya pucat keringat dingin keluar mengucuri tubuh nya.Nadia merasa kesakitan di bagian dada kirinya karna menahan rasa sakit itu bibir nya membiru dan akhir nya...
bbbbrrruuukkk........
tubuh nya terhempas ke bumi Nadia pinsan Sinta sebagai sahabat nya khuatir dan membawa nya ke UKS
“Nadia bangun.....bangun ....”mengikuti jejak kaki penjaga PMR yang membawa nya dengan derai air mata.
dua jam berlalu Nadia masih tergeletak tak sadar kan diri.Sintia pun meminta ijin pada guru untuk membawa nya kerumah sakit..sesampai nya di RS Citra Marga Sintia pun bergegas untuk mencari Wartel untuk menghubungi Ayah dan Bunda Nadia.
“halo... assalamu’laikum....”
“iya halo ,wa’alaikum salam,ma’af saya berbicara dengan siapa...?”
“bik Inem ya?ini Sintia bik!”
“iya non ini bibik da apa ya non..?”
“bik Ibu Susan dan bapak Hartono ada gak ya bik?”
“ohh...ada non sebentar bibik panggilkan “
“Iya bik cepetan ya”
Bik inem pun memberikan ganggang telepon pada majikan nya
“siapa bik?”
“non sintia bik”
“Ada apa ya bik”
“seperti nya penting karena non sintia nya sambil nangis kebingungan”
“ya udah bibik kembali bekerja lagi”
Bibik pun pergi dan kembali mengerjakan pekerjaan nya
“Sintia ada apa sayang”
“Bu.....Nadia...bu!” suara Sintia di balik telepon yang terbata-bata
“iya ada apa dengan Nadia?”
“dia sekarang ada di rumah sakit Citra Marga”
“apa yang terjadi dengan nya nak....?”
“nanti Sintia ceritakan kalau ibu udah sampai”
            Ibu Nadia pun bergegas keRS sesampia nya di sana ibu susan Hartono bertanya pada suster  dimana Nadia putri nya di rawat,setelah suster memberi tahu ibu Hartono pun bergegas kekamar nya dan di lihat nya anak nya tergeletak.
“ahhh....anak ku”membelai rambut Nadia
“tante....!tante udah datang?”
“bagai mana kejadian nya kenapa bisa seperti ini?”
“iya Sintia akan ceritain semuanya tapi tante harus tenang dulu”
“bagai mana tante bisa tenang Nadia terlalu sering seperti ini “
            Sintia menceritakan semua nya dari awal,selang berapa dari Sintia bercerita dokter pun masuk dan memberikan hasil tes..
“apa yang sebenar nya terjadi dengan anak saya dokter?”
“ mari bu ikut saya keruangan saya...!”berjalan menuju rangan dokter
“dari hasil tes darah,terbukti kalau anak ibu positif terkena pembengkakan jantung kronis”
“apa dok...!dokter tidak salah periksa?” bunda menanyakan sekali lagi karena belum yakin anak nya memiliki penyakit yang begitu mengerikan
“itu lah hasil nya bu...!saya harap ibu dapat tabah...”
            Hati ibu Hartono bagai tersambar petir,batin nya bagai teriris sembilu mendengar anak semata wayang nya tak memiliki banyak umur.ibu Hartono keluar dengan derai air mata,rasa haru mendera batin nya dan membuat nya tak mampu berjalan ke kamar Nadia ‘apa yang harus saya lakukan ya Allah’ batin buda dengan air mata yang setia menemani pipinya. Sintia yang mengetahui kalau Ibu Harton menangis tersedu-sedu duduk diruang tunggu segera menghampiri nyadengan penuh tanya
“ada apa ibu,kenapa ibu menangis,apa yang sebanar nya terjadi dengan Nadia?” Sintia curiga jika terjadi sesuatu pada ssahabatnya dia bertanya dengan air mata yang jatuh membasahi pipi nya
            Ibu Hartono menceritakan semua yang terjadi pada Nadia .hati Sintia bagai tersambar petir, mulut nya kaku dan aliran darah nya seperti berhenti ketika dia mendenganrkan cerita bunsa tentang penyakitnya, ia tak menyangka kalau sahabat karib nya yang dari dulu bersama dan selalu ceria saat menjalai hidupnya kini dia harus menahan rasa sakit yang tak pernah terbayangkan oleh bagaimana rasa sakit itu . Sintia pun berlari menuju kamar Nadia lalu memeluk dan mencium nya, dan membuat nya terbangun. Ia pun heran mengapa sahabat karib nya tiba-tiba mnangis sambil memeluk nya. Senyuman manis nya melayang dibibir dengan lembut,sehingga membuat Sintia membalas senyuman manis nya walau dalam hati nya terasa sakit’ apa yang terjadi padamu suatu hari nanti Nadia, apa kamu akan terus tersenyum serti ini saat rasa saki itu datang’ batin nya sambil memandang lekat wajah pucat sahabatnya
“kamu kenpa menangis sayang ku?”
“aahh...euumm..aku ...” Sintia tersadar dari lamunan nya
“ aku nangis karena aku senang liat kamu udah bisa kembali siuman,dan aku di izinin ibu dan bapak ke pesta tahunan sekolah lusa” jawab Sintia sekenanya
“Kalau kamu gak ikut juga aku gak bakalan dateng!”
“Loh...kenapa memang nya?”
“ya karna kamu dan aku itu satu hati, kalau kamu gak dateng aku juga gak dateng!”
Sintia kembali mengeluarkan senyuman paksaan,air matanya kembali turun dan dalam hati nya berkata”andai kan waktu dapat di ulang kembali lebih baik aku yang sakit,aku gak tega liat Nadia tergeletak pucat dengan selang yang tertanam di tubuh mu,Tuhan tolong hambamu ini kuat kan hati ku,aku tak mau terlihat sedih dan tak berdaya dihadapan nya dan aku tak ingin melihat dia terlalu lama tergeletak di sini dengan penyakit yang akan menggerogoti senyum dan hari-hari nya”tangan nya mendekap erat pergelangan tangan Nadia seolah tak ingin melihat sahabat karib nya pergi jauh meninggalkan sejuta kenangan indah nya yang dari dulu sudah di tanam nya bersama



***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar