Senin, 21 April 2014

Missing you


MISSING YOU
Aku menangis lagi sekarang, haruskah aku meneteskan air mataku lagi saat ini? Kenapa hanya aku yang menangis dan merasakan sakit ini? Tak bisakah dia juga merasakannya? Taukah kau betapa aku mengagumimu, bohong jika aku hanya mengagumimu, aku bahkan mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya. Ingatkah kau denganku? Hanya itu yang inginku tanyakan pada mu ketika aku bertemu lagi denganmu dan jika Tuhan mengijinkannya.

Flash    o)(o      Back

(7 tahun yang lalu)
“Hye Rin bukan kah kau bilang akan tinggal di asrama putri?” yahh benar nama ku Kim Hye Rin dan yang baru saja berbicara padaku adalah sahabat yang paling bawel sedunia Park Soo Eun
“iya aku akan pindah ke asrama putri, aku rasa terlalu jauh perjalanan dari rumahku ke sekolah” jawabku tanpa memperhatikan sahabat yang ada disebelahku dan tetap fokus pada apa yang sejak tadi kulakukan yaitu membaca buku
“kau fikir bisa membohongiku hah?” katanya tak mempercayaiku, yah bisa dibilang aku pindah bukan hanya alasan jauh tapi aku sedang memperhatikan seorang lelaki yang bahkan aku tak tau siapa namanya, yang aku tau dia tinggal di asrama putra dan ini menjadi kesempatanku untuk bertemu dengannya meskipun itu tidak mungkin karena jarak asrama putri dan putra sangatlah jauh.
“jika tidak percaya terserah kau saja, sudah jangan menggangguku, kau tak lihat jika aku sedang belajar?”
“baiklah, terserah kau saja yang jelas aku tak percaya dengan alasan awalmu, cobalah cari alasan lain, dan satu lagi jangan pernah mencoba mengelak di depanku, takkan mempan” tak lama setalah berbicara panjang lebar akhirnya dia pergi, aku malas jika harus menjawab semua pertanyaannya dan ocehan lainnya yang menurutku tak penting untuk dijawab. Ahhh aku melupakan sesuatu bukankah pada jam ini dia akan melewati kelas putri untuk menuju ruang komputer aku harus melihatnya. Jika tidak aku bisa tak konsentrasi menerima mata pelajaran selanjutnya, lucu sekali diriku menyukai seseorang tanpa tau namanya. kekeke...

Flash    o)(o      Back Off

Apa aku terlalu bodoh membiarkan hatiku tenggelam terlalu jauh kepadamu, atau mungkinkah ini sesuatu hal yang wajar? Aku bahkan tak tau apa jawaban atas semua pertanyaanku, aku hanya dapat bertanya tanpa aku tau apa jawaban sebenarnya (bodoh).

Flash    o)(o      Back

“Hye Rin, Ji Hyo bilang kau sedang mengintip seseorang di jendela depan ruang Lab apa yang sedang kau lihat” lagi-lagi wanita ini tak hentinya bertanya padaku dan membuatku harus berbohong
“aku tak sedang mengintip" jawabku dengan menutupi raut wajahku yang mulai berubah karena takut Soo Eun akan mengetahuinya, karena jika dia mengetahuinya akan memjadi semakin panjang ceritanya
“ahh lupakan, aku juga tidak percaya dengan perkataanya, bukankah dia tak menyukaimu dan berusaha mencari kesalahnmu? Ohh iya Rin-ah.. barusan aku menelfon papa ku dan meminta izin untuk tinggal diasrama bersamamu?”
“apa..? kau akan ikut tinggal di asrama” jawabku terkejut dengan apa yang dilakukan Soo Eun, itu berarti dia akan mengacaukan semuanya ahhh Tuhan cobaan apa lagi ini batin ku
“kenapa? Sepertinya kau tak menyukainya?” tanyanya dengan raut wajah yang menyedihkan.. hahhh mau bagaimana lagi dia sahabku satu-satunya aku harus menerimanya dengan lapangan bola maksudku lapang dada
“siapa bilang? Aku senang itu berarti aku takkan kesepian di asrama sendiri iyakan?” kata ku menenangkan sahabatku
“hahh.. untunglah aku kira kau akan mengusirku”
“ya sudah kita pulang dan mempersiapkan barang yang akan kita bawa, dan bertemu lagi di asrama ok?” kataku sembari bangkit dari tempat semula.
Aku dan Soo Eun pun berjalan keluar dari kelas menuju gerbang utama sekolah menengah pertama Citra Marga, yahh.. sekolah ku adalah sekolah yang terkenal dengan mewahnya, bahkan di sekolah ku ini anak lelaki dan perempuan tidak dibiarkan ada dalam satu ruangan, humf membosankan bukan tapi itulah sekolahku sekolah yang sangat ketat dengan peraturan-peraturan yang dibuatnya sehingga bagi siswanya yang tidak terbiasa akan terasa bagai tercekik. Aku berjalan berdampingan dengan Angun namun tanpa ku sadari mataku menangkap sosok  yang selama ini aku kagumi, lelaki itu aku tak tau siapa namanya, namun dia yang selalu membuatku sangat gelisah dan jantungku berkibar saat melihatnya. Tuhan senyumnya membuatku merasa nyawaku bertambah satu tahun setiap melihatsenyumnya. Tanpaku sadari jarakku dengan Soo Eun sangat jauh dan setelah sadar aku mengejarnya takut dia akan tau jika aku sedang memperatkan lelaki itu.

Flash    o)(o      Back off

Taukah dirimu langkahku akan berhenti seketika saat tanpaku sadari mataku menangkap sosokmu yang bahakan tak pernah ku tau siapa nama? Konyol bukan, itulah aku Park Hyo Jun, aku bahkan tersenyum saat melihatmu melintas didepan mataku, tak bisakah kau melihatku walau hanya sekilas saja, aku disini tepat disebelahmu?.

Flash    o)(o      Back

“Hye Rin kau sudah mendengarnya jika kelas kita akan direnovasi untuk satu tahun kedepan?”
“tidak aku tak mengetahuinya” jawabku yang tak sedikitpun merubah raut wajahku dan memperhatikan ocehan sahabatku
“yah.. aku memakluminya, kau hanya membaca buku-buku ini tanpa mendengarkan berita disekelilingmu. Kita akan dipindah di ruang serbaguna dekat Lab komputer putra”
“apa? Ini berita atau hanya gosip saja?” kagetku yang sepontan, itu berarti aku bisa melihatnya setiap pagi Tuhan terimakasih atas kebaikan-Mu
“kenapa dengan raut wajahmu, terlihat gembira sekali, sebelumnya aku tak pernah melihatnya walau pun kau menjadi juara umum di SMP ini tahun lalu?” hahhh... bagaimana ini Soo Eun mencurigaiku aishh... susah sekali mengendalikan rasa senang ini
“ahh.. aku... aku biasa saja, kau saja yang berlebihan” jawabku berusaka mengendalikan perasaanku
“tapi ini tidak wajar? Ahhh sudahlah lupakan saja, dan ingat mulai besok kita akan menempati gedung serba guna itu”
“bukankah kita akan berangkat kesekolah bersama besok?”
“hehehe.. maaf Hye Rin-ah aku tak bisa ikut sekolah besok, aku ada acara dengan keluarga ku”
“baiklah aku mengerti” jawabku pasarah

o)(o

            aku benar-benar sendiri, tak ada mulut bawel Park Soo Eun yang menemaniku sepanjang hari ini. Pelajaranku telah usai aku harus kembali ke asrama sekarang, mungkin saja Soo Eun sudah kembali. Aku berjalan keluar sendiri namun saat akan keluar segerombolan siswa pria melewati ruangan serbaguna, aku pun bersembunyi dibalik tiang takut mereka melihatku  dan akan membuatku malu setelah situasi yang memungkinkan aku pun memutuskan untuk keluar, dengan cepat aku memakai sepatuku namun betapa terkejutnya aku saat aku hendak bangkit dari duduk ku aku tak sengajak menabrak seseorang.
“maaf.. maaf aku tak melihatmu?” kata ku pada orang yang kutabrak tanpa melihat wajahnya aku bangkit dari tanah karena insiden jatuh tadi
“ahhh.. tidak apa, sepertinya kau buru-buru?” katanya, aku belum memperhatikan wajahnya karena sibuk membersihkan bajuku yang kotor karena debu
“iya aku sed..” aku memandang wajahnya dia... lelaki yang ku kagumi kini begitu dekat denganku, Tuhan apa ini mimpi jika iya tolong jangan buat ku terbangun
“kau baik-baik saja” aku tak menjawab pertanyaannya aku masih memandang lekat wajahnya, aku tak pernah memandang nya sedekat ini selama ini, ahhh jantungku sepertinya akan melompat-lompat ingin keluar dari tempat awalnya. Aku bahkan tak tau bagaimana bentuk wajahku saat ini
“hai.. kau tak apa kan?” tanya lelaki sekali lagi aku pun tersadar karena dia memegang pundakku untuk memastikan jika aku baik-baik saja
“ahh.. iya.. aku baik-baik saja.. kalau begitu aku permisi dulu” kata meninggalkannya dengan buru-buru ditengah langkahku yang aku percepat ada seseorang yang memanggil temannya dengan sebutan Hyo Jin aku pun menoleh kearah belakang ternyata nama yang tak sengaja ku dengar tadi adalah Hyo Jin lelaki yang aku kagumi selama ini, mulai saat itulah aku mengetahui jika nama nya adalah Hyo Jin. Ahhh aku melupakan bukuku, aisshh itu kan buku kesayanganku, sangking sayang nya aku tak berani menulis di buku itu tapi sekarang dengan cerobohnya aku meninggalkannya, semoga besok pagi buku itu masih ada.

Flash    o)(o      Back off

Aku bahkan tak mengetahui namamu dari mulutmu sendiri aku mengetahuinya dari orang lain yaitu temanmu yang tak sengajaku terdengar di telingaku saat ia memanggilmu. Tapi kau tau itu membuatku bahagia walau hanya mengetahui namamu dari orang lain. Sejak saat itu aku bahkan membayangkan hal-hal konyol.

“Soo Eun.. kamu tidak belajar bukankah besok kita akan ada ujian Matematika?” tanyaku pada Soo Eun yang masih asik memainkan hp nya padahal dia akan terkena masalah besar jika pengawas tau dia membawa hp, yahh di SMP ini tidak memperbolehkan siswa-siswi nya membawa hp. Cukup kolot tapi yahh.. inilah sekolahku.
“kau sendiri.. biasanya kau belajar hingga larut kenapa sekarang kau sudah berbaring di ranjang, dan aku lihat kau seperti sedang membayangkan sesuatu?” tanyanya yang membuatku sedikit terkejut. Wahh Soo Eun kau sangat cocok untuk menjadi seorang dokter psikologi, kau bisa menebak dengan benar
“ahh.. kau tau aku juga manusia saat aku merasa lelah aku akan behenti, kau tidak akan tidur?” tanyaku mengalihkan pembicaraan awal kita, karena kalau tidak dia benar-benar bisa menebak apa yang sedang aku fikirkan yaitu aku sedang jatuh cinta.

o)(o

“Soo Eun, kau benar tak belajar tadi malam?” tanyaku di sela perjalananku menuju ruang kelasku, memang membutuhkan waktu yang lama untuk menuju kesana karena memang jaraknya yang semakin jauh
“ohh.. aku tak belajar, aku fikir aku bisa bangun pagi hari dan belajar ternyata aku kesiangan. Aku serahkan hidupku padamu Hye Rin” katanya dengan raut wajah yang sok dramatis
“hah.. itu adalah ritualmu, baiklah kau sahabatku satu-satunya mana tega aku membiarkanmu membersihkan kamar mandi saat kau mendapat nilai rendah” jawabku pasrah
            Tak terasa aku sudah memasuki ruangan dan aku menempati tempat dudukku yang biasa aku tempati aku tak suka pindah-pindah saat duduk ketika dan ketika aku merasa nyaman dengan bangku yang ku tempati aku akan menetap di bangku tersebut. Saat akan memasukkan tasku ke dalam laci meja aku merasa jika aku menyentuh sesuatu. Apa ini, apa buku yang kutinggal kemarin? Aku pun mengeluarkannya dari laci dan ternyata benar ini buku ku tapi kenapa ada Lolypop besar yang menempel di bukuku. Aku pun penasaran dan membuka buku tersebut. Ternyata di dalam nya ada tulisan dengan seksama aku membacanya
‘maaf.. aku menabrakmu tadi.. aku tak tau jika buku ini milikmu tapi entah kenapa aku yakin ini milikmu, kau tau bukan siapa aku Park Hyo Jin!! Aku rasa kau mendengar saat temanku memanggilku tadi.. ehhh aku memberimu lolypop itu sebagai ucapan maafku karena menabrakmu.. Mianhae’
            Tuhan benarka ini dia? Hyo Jin? Dia memberiku Lolypop ini, dan juga menuliskan surat untukku, apa ku mimpi. Ahhh sakit!! Cubitanku sakit itu berarti aku tak sedang mimpi. Ku ambil permen dan membalas tulisannya
‘seharusnya aku yang meminta maaf pada mu.. aku tak hati-hati dan memperhatikan jalanku.. aku mendengarnya karena memang temanmu sedang berteriak memanggilmu.. kau tau? Sedikit ada yang mengganjal saat tau siapa namamu.. aneh bukan? kekeke.. Ohh iya terimakasih lolypopnya... aku Kim Hye Rin selamat datang di dunia baru kita
            Setelah mebalasnya aku kembali memasukkannya kedalam laci mejaku... aku tak tau kenapa bisa kebetulan ini bisa terjadi, tak masalah lagi dengan buku yang kusayangi dan kujaga agar tak kupakai dan kucoret, yang jelas aku bahagia karena yang mengarahkan tinta untuk mengores buku ini adalah Hyo Jin lelaki yang kukagumi sejak aku pertama melihatnya. Aku tersenyum sendiri tanpa kusadari Soo Eun memperhatikanku sedari tadi
“Hye Rin-ah kau kenapa senyum-senyum sendiri? Kau jatuh cinta? Tapi tidak mungkin kau bahkan tak pernah melihat lelaki sama sekali? bahkan sudah hampir satu tahun disini kau tak pernah menunjukan ketertarikanmu pada lelaki” tanya nya yang seketika membuatku gugup dan bingung untuk menjawab apa
“ahh... Soo Eun kau mengagetkanku.. aku tak sedang jatuh cinta” jawabku dengan sedikit gugup
“kau tak sedang berbohongkan Hye Rin?”
“tidak aku tak sedang membohongimu”
            Perdebatan kita pun berakhir saat guru masuk kedalam kelas kami dan membagikan soal untuk ujian yang telah dijanjikan minggu lalu. Benar apa yang telah di rencanakan oleh Soo Eun sebelum memulai pelajaran bahwa dia akan menyerahkan hidupnya padaku, yang dia lakukan sepanjang ujian hanya diam dan menunggu jawaban dariku.

o)(o

Hariku kini terasa penuh dengan kegitanku yaitu saling mengirim pesan lewat buku yang salalu kutinggal di dalam laci mejaku, bahkan sudah hampir tiga buku ku habiskan untuk tetap berkomunikasi dengannya, setiap pagi aku membalas dan membaca tulisannya yang melekat dibukuku, dan setiap hari aku membalasnya. Bahkan bukan hanya buku yang ia tinggalkan untukku melainkan coklat, lolypop, pita rambut dan masih banyak lagi yang ia kirimkan beserta dengan tulisan yang ia buat. bahkan sekarang aku sering melihatnya dan saling melempar senyum jika bertemu

Flash    o)(o      Back off

            Apa yang aku harus lakukan kini Hyo Jin-ah? Aku medengar nya.. aku mendengar dari siswi lainnya jika kau akan mengikuti ayahmu untuk pindah sekolah bahkan pindah rumah. Menangiskah dirimu karena kau akan jau dengan ku? Berfikirkah kau tentang nasib kita nantinya? Aku bahkan belum lama merasakan kebahagian bersama denganmu. Apa yang harus aku lakuakan? Aku bertanya tentang kita! Dapatkah antara aku dan kamu menjadikan satu kata yaitu KITA? Kita masih muda untuk mengerti keadaan ini, tanganku yang masih kecil bahkan tak mampu untuk menggenggam erat pergelangan tanaganmu, hingga kau terbang menghilang terbawa angin. dan membuatku tak mampu lagi melihat sosokmu

Flash    o)(o      Back

            Aku masih menggenggam erat buku yang pernah kita gunakan untuk mengirim cerita atau ungkapan-ungkapan kita tentang kehidupan sehari-hari kita. Tak bisakah aku menggenggam tanganmu seerat aku menggenggam buku ini, kenapa kau harus terlepas. Kenapa harus aku sendiri yang menangisinya, dimana dirimu Hyo Jin? Tak bisakah kau tetap disini? Suratmu yang terakhir tak bisakah kau mengubahnya dengan tulisan dan kata-kata yang lain
“kamu kenapa Hye Rin, tak seperti biasanya?” tanya Soo Eun padaku yang mulai merasa perubahan sikapku akhir-akhir ini
“...” aku tak ingin menjawabnya aku takut tak bisa menahan air mataku jika aku membuka mulutku
“huumff.. kau seperti orang putus cinta tapi tak mungkin kau bahkan tak pernah terlihat dekat dengan lelaki. Ahhh Hye Rin.. kamu tau kan Hyo Jin siswa kelas tiga itu, aku dengar hari ini dia pindah, kau tidak salah dia pindah ke Bogor. Ahhh sayang sekali wajah tampan nya tak lagi dapat dilihat” aku berusaha menahan air mataku agar tak jatuh aku tak bisa menangis didepan Soo Eun
            Soo Eun berpamitan untuk keluar menemui orang tuanya, dan saat itu juga aku mulai menangis sejadinya perlahan kembali kubuka buku yang terdapat goresan tinta milik Angga untuk yang terakhir kalinya
‘aku harus pergi Hye Rin-ah! Maaf mengingkari janji untuk selalu memperhatikan hal kecil tentang dirimu. Kau taukan aku takkan mungkin tinggal disini dan membiarkan ayah ku sendiri. Aku memberimu sebuah rekaman yang di dalam terdapat suaraku , kau dapat menanyakan keadaanku dengan merekam suaramu di rekaman itu meskipun kau tak mendengar jawaban ataupun suaraku anggap saja aku mendengar dan membalas semua pertanyaanmu. Aku percaya dengan adanya takdir, dan aku yakin jika kita jodoh pasti kita akan bertemu. Jika kita kembali dipertemukan lagi kau boleh mengenggam erat pergelangan tanganku agar aku tak lagi lepas kekekeh
            Dengan bergetar aku mulai menyentuh benda berukuran mini yang aku yakin didalamnya terdapat suara Hyo Jin, aku mulai menekan tombol on namun aku berhanti sejenak dan mengurungkan niat ku untuk mendengarkannya dan kembali meletakkan nya kedalam laci meja belajarku beserta ketiga buku yang sudah penuh dan menulis balasan surat di buku yang terdapat tulisan terakhir Angga
‘kau marah padaku Hyo jin-ah? Bukankah aku sudah minta maaf karena tak bisa datang saat kau dipanggil untuk bernyanyi di acara ulang tahun sekolah. Hyo Jin kau bodoh atau sudah gila, bagaimana bisa kau menyuruhku berbicara sendiri dengan perekam suara yang kau berikan. Aku tau kau sudah tak ada lagi di sekolah ini tapi aku tetap menulis surat untukmu, kita sama gila dan bodohnyakan? Aku akan tetap menulis setiap harinya hingga aku lelah menunggumu untuk pulang. Asal kau tau kita tak akan berjodoh jika hanya aku yang berusaha. Maka dari itu berusahalah untuk berjodoh denganku’
            Aku barlari sekuat tanaga ku untuk menuju kelas yang biasa aku gunaka dan meletakkan buku tersebut didalam laci yang biasa aku tempati. Tak banyak berharap dalam hatiku untuk mendapat jawaban besok pagi namun aku tetap melakukannya.

o)(o

            Sekarang aku menyiapakan diriku untuk menghadapi ujian kelulusan ku dari sekolah ini, ku fokuskan segalanya pada ujianku. Kalian bertanya apaaku masih menulis surat dibukuku? Aku tak lagi melakukannya karena aku tau yang akau tunggu tak akan pernah datang. Akan lebih baik jika seperti ini aku tak suka mendapat simpati dari orang lain kerana hal ini. Aku sekarang sudah cukup mengerti bagaimana cara menggenggam erat tangannya. Aku berjanji jika benar Tuhan mempertemukanku dengan nya suatu hari nanti aku takkan melepasnya dengan mudah.

Flash    o)(o      Back off

            Sekarang aku menjadi seorang mahasiswi di Universitas Jember jurusan Petanian, untuk kesekian kalinya aku melihatmu Hyo Jin. Cinta pertamaku. Kau kah yang ada dihadapanku? Kau tetap sama, tak ada yang berbeda sama sekali hanya saja kau mengenakan kacamata yang menjadikanmu terlihat semakin dewasa. Tapi kenapa sekarang aku tak memiliki keberanian untuk menyapamu bukankah aku talah berjanji untuk menggenggam arat tangan nya jika suatu hari nanti bertemu.
“Hye Rin-ah apa yang kamu liat?” tanya Shin Hae yang sedari tadi memperhatikanku
“kau tak tau Hae-ah, sepertinya teman kita ini sedang tertarik dengan lelaki berkacamata itu deh” sambung Hee Seul
“kalian ini? Jangan sok tau deh” jawabku santai dan berjalan mendahului kedua temanku
            Kalian bertanyakan dimana Soo Eun sekarang? Dia memutuskan untuk mengambil jurusan Pertanian namun di Universitas Gajah Mada, jadi kita berpisah sekarang namun kami tetap berkomunikasi bahkan hingga sekarang aku tak pernah cerita dengan Soo Eun jika aku memiliki cinta pertama dan menyedihkannya aku ditinggalkan.
“Hee Seul bukankah kau bilang akan ke Lab Agronomi?” tanyaku pada Hee Seul, aku menanyakannya kerana aku tau jika Hyo Jin adalah anak Agronomi
“iya benar, kenapa kau akan ikut denganku? Atau kau hanya akan melihat senior kita yang menggunakan kacamata itu?” aku tak menjawabnya aku hanya tersenyum
“bagaimana bisa kau tertarik dengannya?” tanya Shin Hee yang baru bergabung dan langsung bertanya pertanyan yang seharusnya tidak ku jawab
“dia itu senior di SMP ku dan aku menyukainya sejak SMP”
“kau serius?” tanya Shin Hee antusias padaku yang aku jawab dengan anggukan
“ahh.. sudahlah bukankah kau janji mengumpulkan tugasmu jam 9 ini?” kata ku mengelihkan pembicaraan
            Kita pun berjalan sembari sesekali bergurau saat akan memasuki ambang pintu gedung Agronomi mataku menangkap sesosok lelaki yang sangat aku kagumi, kedua temanku menyadari jika aku sedang memperhatikan Hyo Jin dengan wajah yang biasa aku tetap melangkahkan kakiku mengikuti kedua temanku dan melintas tepat disebelah Hyo Jin. Entah mengapa aku tak memiliki keberanian untuk menyapanya, tapi.. dia tak menyapaku? Apa dia lupa denganku? Bukankah waktu yang bergulir tidak terlalu lama.
“Hye Rin kenapa kau tak menyapanya, kau bilang dia seniormu waktu SMP?” tanya Shin Hee padaku saat kamu telah sampai di depan ruang yang kami tuju
“...” aku tak mejawab nya aku masih sibuk dengan fikiranku sendiri, bagaimana bisa dia lupa padaku? Atau memang dia tak pernah kenal padaku? Itu lah pertanyaan ku yang entah siapa yang akan menjawabnya


o)(o

            Entah mengapa malam ini fikiranku sangat kacau, aku memikirkannya! Bukan hanya malam ini namun malam-malam dua bulan yang lalu. Aku memikirkannya bagimana bisa ia tak menyapaku seperti dia tak mengenaliku? Tanpa ku sadari kini langkahku menuju sebuah kotak dan berlahanku buka kotak tersebut, kotak yang berisi tiga buah buku dan sebuah alat perekam. Kubuka lembar per lembar buku hinga pada buku terakhir dan lembar terakhir, air mataku kembali menetes ku runtuki kebodohanku dulu yang masih mengirimnya surat padahal aku tau jika dia takkan pernah membalasnya. Kini tanganku telah beralih menggenggam alat perekam yang bahkan sampai sekarang aku tak pernah tau apa isi yang ada didalam alat perekam itu, karena aku telah berjanji aku akan mendengarkan nya bersama dengan pemilik suara dalam rekaman ini, namun sepertinya akan sangat sulit mengingat bahkan ia tak menyapaku saat kita bertemu dan berpapasan
“haruskah ku mendengarkannya” gumamku dan bahkan jika ada seseorang disebelahku dia takkan mendengarnya, perlahan ku tekan tombol on ku kumpulkan seluruh keberanianku untuk membukanya, kini aku telah menekan tombol dan mulai terdengar suara yang terdengar khas karena terlihat serak.
‘hai Hye Rin-ah... beruntangnya dirimu dapat mendengarkan suaraku, sedangkan diriku hanya mendengarkan suaramu saat tak sengajaku menbrakmu enam bulan yang lalu dan bahkan aku telah lupa humm... bodohkan diriku tak pernah hebat jika mengingat bahkan hal terpenting sekalipun aku bahkan dengan cepat melupakannya’ tak lagi ada suara dalam rekaman tersebut
“apa hanya ini yang dia kirimkan padaku” kataku dihadapan perekam tersebut namun tak selang berapa lama ada suara desahan nafas yang aku yakin itu pasti milik Angga
‘kau merasa kehilanganku? Kau masih merindukanku? Tenang aku masih disini hingga kau tertidur malam ini, kau pasti bertanya bagaimana bisa aku tau kau akan mendengarkan ini pada malam harinya, iyakan? Tak usah menanyakan sesuatu yang tak penting. Hye Rin-ah jika suatu hari nanti Tuhan kembali mempertemukan kita, jangan pernah ragu untuk menyapaku. Aku mungkin takkan bisa menyapa dulu karena aku mungkin lupa dengan wajahmu, yah benar aku sangat payah jika dalam menghafal...’
            Aku tak tau lagi suara apa yang ada didalam perekam suara itu karena kini mataku sudah terpejam. Kini aku berada dalam alam mimpiku. Hingga mataku terbuka pada pagi harinya karena cahaya matahari yang memaksa masuk kecelah mataku. Dengan berat dan mengontrol cahaya yang masuk kukerjapkan kelopak mataku perlahan, dan aku mulai bangkit dari ranjangku dan melangkah menuju kamar mandi untuk menjalankan ritual pagiku, yang mungkin kebanyakan orang menjadikannya sebuah ritual juga.

o)(o

            Pagi ini seperti biasa aku berangkat kekampus karena memang jam 07.00 WIB pagi ini akan ada kuliah. Dengan langkah yang pasti aku berjalan menyusuru lorong fakultas, kulewati satu persatu ruangan hingga kini aku tiba di ruang tujuh, tampak masih sepi karena memang waktu menunjukan pukul 06.30 WIB. Aku pun memutuskan untuk menunggu didalam ruangan untuk menghilangkan bosanku, kukeluarkan benda berwana putih dari saku celanaku dan mulai mengetikan beberapa kata untuk kedua temanku Hee Seul dan Shin Hae untuk segera datang. Benar saja belum lama aku menunggu akhirnya Shin Hae temanku sudah datang dengan senyum yang menyambut pagiku.
“kau sudah dari tadi?” tanyanya padaku sembari duduk dibangku tepat disebelah kananku
“tak terlalu lama. Hee Seul belum datang? Bukankah biasanya dia datang bersamamu?”
“entahlah mungkin dia telat bangun, mungkin sebentar lagi dia datang”
            Sembari menunggu kedatangan Hee Seul aku dan Shin Hae hanya bercerita. Berulangkali dia menanyakan perihal aku dan Hyo jin yang bahkan aku tak tau akan berkahir seperti apa dan bagaimana? Yang ditunggu pun akhirnya datang juga, dengan sedikit berlari Hee Seul datang menghampiri tepat duduk ku dan Shin Hae
“Hye Rin kau tau kenapa aku telat tadi?” tanyanya paduku yang kujawab dengan mengernyitkan dahi dan menyatukan kedua alisku lalu menaikan pundakku bertanda aku tak mengetahuinya sama halnya dengan Shin Hae yang juga sepertinya tak tau
“aku memintakan nomor Kak Hyo Jin ke kakak senior yang aku kenal dan dia punya”
“...” aku tak menjawab kerana masih tak mengerti dengan arah pembicaraan temanku yang satu ini
“bukankah kau mengenal kakak itu, aku mencarikan nomornya agar kau bisa mengenal dan akrab dengannya” kali ini aku baru mengerti dengan maksudnya. Tanpa menunggu jawaban dariku dia pun merebut hpku dan mengetik nomor dan kemudian menghubinya, saat aku akan merebutnya ternyata nomor yang ditelfon Hee Seul telah terjawab dan terdengar suara di seberang telefon tersebut
“hallo.. Assalamu’alaikum” terdengar suara yang kukenal dan kurindukan suara Hyo Jin-ku
“iya.. Wa’alaikumsalam” jawabku dengan gugup, aku benar-benar tak siap untuk sekarang ini
“siapa ya?” tanyanya, awalnya agak sedikit kecewa karena dia benar-benar tak mengingat suaraku padahal aku selalu mengingat suaranya, bahkan desahan nafasnya
“a..aku Hye Rin.. Kim Hye Rin” jawabku gagap seolah-olah Hyo Jin sedang ada didepanku
“Hye Rin siapa? Maaf saya lupa?” bahkan dia lupa dengan namaku
“ahh.. maaf aku menganggu.. aku hanya teman masa SMP mu dulu.. Assalamu’alaikum” tak menunggu apa jawabannya aku langsung menutup sambungan telfon tersebut
            Kedua temanku menanyakan apa hasilnya, namun setelah melihat raut wajahku mereka tau apa yang terjadi denganku. Aku tak tau apa yang kurasakan sekarang, disatu sisi aku senang karena dapat mendengarkan suara yang benar-benar aku rindukan namun disisi lain aku merasa kecewa padanya bagaimana dia bahka melupakan suaraku. Sepanjang kuliah ini aku sama sekali tak berkonsentrasi karena aku memikirkan kejadian tadi.

o)(o

Kini aku lebih sering mengirimnya pesan singkat yang menurutku ini bukan gayaku namun setelah kedua temanku berkata ‘takkan terkejar olehmu dirinya jika tak ada usaha’. Kini dia mengingatku namaun walau dia mengingatku dia telah berubah tak lagi sama seperti dulu yang selalu memperhatikanku. Bahkan ketika bertemu dia terlihat sungkan untuk tersenyum atau bahkan melirikku.
‘jantung ini masih sama seperti jantung tujuh tahun yang lalu, tak pernah bisa dikendalikan jika mataku melihat wajahmu, masihkah kau juga merasakannya? Kadang aku berfikir bagaimana bisa kau lupa tentang kita. Kau sengaja tak ingin mengingatnya atau kau sengaja ingin melupakannya? Entahlah hanya kau dan persaanmu yang mengetahui jawbannya dengan pasti. Aku tak perah mengharapkan banyak darimu aku hanya ingin kau mengingatku walau hanya sekali’
            Sudah hampir enam bulan aku mulai berhubungan lagi dengannya namun tetap tak ada perubahan darinya. Bahkan hingga kini aku menghadiri acaranya yaitu acara seminar hasil. Awalnya sangat sulit untuk datang karena bertepatan dengan jadwal praktikumku, namun aku berusaha untuk datang dan melihatnya walau dia bahkan tak tau keberadaanku saat ini. Dengan ditemani oleh Hee Seul dan Shin Hae aku memasuki ruangan yang dijadikan tempat nya seminar. Wajah tegangnya aku kembali melihat setelah tujuh tahun, wajah ini sama dengan wajah ketika dia menaiki panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Dalam hatiku aku selalu berdo’a untuk kesuksesannya, namun aku juga takut jika dia akan meninggalkanku untuk yang kedua kalinya.
“kau tak apa kan Hye Rin-ah?” tanya Shin Hae saat meihat raut wajahku yang aneh menurutnya
“aku tak apa? Kau lihat betapa gugup nya dia” kataku sembari mengarahkan pandanganku ke arah Hyo Jin yang sedang berusaha untuk mengukuhkan jawabannya dihadapan ketiga dosen
“yah aku lihat, setidaknya dia tak kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan dari semua dosen tersebut” sambung Hee Seul
“..” aku hanya menjawab dengan senyuman bertandakan aku setuju.
            Acara pun selasai kami memutuskan untuk turun dan kembali kekelas. Kedua temanku sedang asik bercerita sembari berjalan menuju ruang namun aku hanya diam dalam fikiranku aku takut jika dia akan pergi lagi, bukankah jika setelah melakukan seminar itu berarti dia akan segera lulus.
“apa yang kau lamunkan Hye Rin-ah?” tanya Shin Hae membuyarkan semua lamunanku
“Shin Hae..Hee Seul bukankah setelah melakukan seminar Hyo Jin akan lulus?” kedua temanku menggerakkan kepalanya menandakan mereka tak mengetahuinya
“kenapa tak kau tanyakan saja?” lanjut Hee Seul memberikan usulan. Sebenarnya aku ingin mengirimnya pesan untuk mengucapkan selamat, tapi aku takut dia mendapatkan jawaban iya atas pertanyaanku tentang kepergiannya
“heii..kau melamun lagi?” kali ini Hee Seul yang mengganggu lamunanku
“aku tak bisa mengirimnya pesan, sepertinya dia mengira aku wanita yang tebal muka”
“kau masih peduli dengan hal seprti itu? Hye Rin kau akan ditinggalkan lagi untuk yang kedua kalinya, kau masih tak sadar juga?”
“lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan? Disini hanya aku yang berusaha tanpa aku melihat usaha dari orang lain yaitu dia, kau fikir akan berjalan lancar jika kau mengangkat guci yang berat dengan sebelah tanganmu, yang ada guci itu akan jatuh dan pecah” jelasku pada kedua temanku, mereka terdiam aku tau pasti mereka mengasianiku atas nasibku ini.
“Hye Rin bukankah itu kak Hyo Jin?” kata Hee Seul mengarahkan pandangan ke arah belakangku
“ini kesempatanmu untuk mengucapkan selamat dan berbicara padanya”
“tapi..” belum sempat aku menjawabnya kedua temanku menarikku ke arah Hyo Jin, aku tak tau lagi bagaimana merahnya wajahku saat ini karena malu. Aku bingung harus bagaimana? Aku tak siap untuk menyapanya
“hai.. Hyo Jin” kataku dengan nada gugupku
“hai... Hye Rin-ah ada apa?” jawabnya, aku tak tau sejak kapan dia tau jika aku adalah Hye Rin
“selamat dan sukses yah buat kamu?”
“terimakasih.. kau juga harus sukses” sambungnya dengan memberanikan memegang pundakku
“aku akan pulang sekarang... kau masuk lah kekelasmu.. aku tak ingin membelakangimu"”
“hah.. maksudmu?” jawabku yang seperti orang idiot memang aku tak mengerti maksudnya
“aku tak suka kau melihat punggungku saat aku berbalik.. bukankah sakit saat kau melihat punggungku tujuh tahun lalu” aku baru mengerti sekarang apa maksudnya, dia tak ingin meninggalkanku itulah sebabnya dia tak ingin aku melihat punggungnya, aku bahagia dia mengatakan itu rasanya aku berada dipuncak gunung dan merasakan tubuhku diterpa angin yang sangat sejuk
“baiklah aku akan kekelasku.. kau hati-hati saat pulang”
“hmmm...” jawabnya singkat. Kulangkahkan kakiku untuk menuju kekelasku, awalnya aku mengira kedua temanku akan menemaniku tapi tidak mereka pergi setelah membuatku malu pada awalnya tapi sekarang tidak aku bahagia.. dapat di ulang AKU BAHAGIA kekekek... 

o)(o

            Hari aku tak ada niatan untuk kekampus karena bedanku yang sangat amat remuk, bagaimana tidak kemaren aku ada Praktikum Lapang yang mengharuskan aku untuk mengikutinya tanpa ada penolakan dariku. Beginilah jika masuk di pertanian bahakan kalian akan lupa bagaimana memasukkan makanan kalian didalam mulut, kalian akan lupa bagaimana rasanya air yang segar ketika kalaian mandi karena kalaian akan merasakan mandi satu kali dalam sehari, dan yang paling parah adalah kalian tak tau lagi bagaimana cara memejamkan mata untuk tidur huuuhhh.... aishhh lupakan thor fokus pada cerita
            Kejadian satu bulan yang lalu membuatku dan Hyo Jin semakin sering mengirim pesan bahkan dia sekarang telah menyapaku walau hanya dengan senyuman atau bahkan dia menanyakan tujuanku. Aku juga pernah menanyakan kenapa dia bisa lulus lebih cepat dan dia menjawab dia lulus SMA lebih cepet satu tahun. Aku tak berharap banyak aku hanya berharap aku tetap melihat wajahnya dan senyum itu sudah sangat cukup. Kurebahkan badanku di atas tempat tiduku saat aku akan memejamkan mataku kudengar suara hpku yang menandakan ada pesan masuk dan ternyata Shin Hae 
‘Martha kau tau.. aku melihat kak Hyo Jin sedang mengenakan setelan rapi dan menaiki gedung Dekanat. Apa dia akan melaksanakan sidang?’
‘sidang?’ hanya itu yang bisa aku ketik di hp ku, aku sangat takut sekarang takut kehilangan dia takut tak bisa melihatnya lagi untuk yang kedua kalinya. Tuhan tak bisakan dia lebih lama disini. hp ku kembali berdering ternyata balasan dari Shin Hae
‘iya Hye Rin dia sedang sidang. Aku baru saja menanyakan pada kakak senior lain yang tadi bersamanya’ aku tak lagi membalas pesan dari Shin Hae. Dengan semua ini berarti besok dan mungkin seterusnya aku tak bisa melihatnya.

o)(o

            Hari ini aku kekampus seperti biasanya, aku berharap bisa melihatnya walau itu tak lagi mungkin. Tidakkah dia berfikir jika kini dia mengingkari ucapannya lagi, dia mengatakan tak ingin memperlihatkan punggungnya padaku tapi kini apa? Angga muncullah walau hanya sebentar.
“Hye Rin-ah... ada apa dengan raut wajahmu.. kau membuatku takut” sapa Hee Seul padaku
“ahh..aku baik-baik saja.. kemana Shin Hae? Dia belum datang?”
“mungkin sebentar lagi, aku sengaja tak menunggunya karena aku ingin berangkat lebih awal”
“RIN-Ah... “ teriak seseorang padaku yang kukenal suaranya. Dengan langkah seribu dia menghampiriku dan Hee Seul
“kau sudah mendengarnya? Kak Hyo Jin... dia...” jawabnya terpotong-potong karena susah mengatur nafas
“kenapa dengan Hyo Jin?” tanyaku yang mulai penasaran karena Shin Hae tak segera berbicara apa yang terjadi
“dia akan melanjutka S2 nya di luar negeri” kalimat itu, kalimat yang sangat aku takutkan benar-benar terjadi. Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus melepasnya
            Aku tak memperdulikan sekelilingku sekarang aku meraih hp ku dan berlari kearah parkiran motorku, aku berusaha menghubungi Hyo Jin namun tak kunjung dijawabnya. Setelah sekian lama aku mecoba menghubunginya akhirnya dia menjawab
“halo..Assalamu’alaikum” terdengar suara dari sebrang telfon
“Hyo Jin-ah.. benarkah kau akan ke luar negeri, itu hanya gosipkan? Jawab Hyo Jin”
“jawab dulu salamku Hye Rin-ah”
“baiklah wa’alaikum salam.. sekarang gantian jawab pertanyaanku! Aku harap kau tak mengucapkan kata iya dengan mudah”
“yang kau dengar semuanya benar. Memang benar aku akan kuliah ke luar negeri karena aku mendapat beasiswa disana”
“lalu bagaimana denganku? Kau akan meninggalkanku lagi? Untuk yang kesekiankalinya?”
“kau masih ingat apa yang aku katakan padamu.. jika kita memang dijodohkan kita akan bertemu.. dan aku harap ketika kita bertemu denganmu aku sudah berubah menjadi sosok wanita yang dewasa”
“kau fikir ini lelucon Hyo Jin..” teriakku aku tak peduli dengan orang yang memperhatikakku yang sedang menangis dan berteriak
“bukankah kau tak ingin memperlihatkan punggungmu, bukankah kau mengatakan jika kau takkan pernah pergi? Aku kau bodohi lagi untuk yang ke sekian kalinya”
“..” tak ada jawaban sedikitpun yang keluar dari mulutnya yang ada hanya desahan nafasnya
“baiklah pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali. Karena jika kau kembali mungkin aku sudah melupakanmu dan tak lagi memperdulikanmu”
            Kututup sambungan telfonku tanpa mendengar ucapannya. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa harus pergi secepat itu? Kita bahkan baru saling mengenal lagi. Kini aku hanya terdiam didalam kamarku setelah kepulanganku dari kampus tadi, aku bahkan tak tau apa yang aku harus aku lakukan berulangkali kenangan-kenanganku bersama dengan HYo Jin memenuhi fikiranku. Kenangan pertama kali aku melihatnya, kenangan diaman baru pertama kaliya aku merasa bahagia dalam hidupku, bahkan kenangan pertama kali aku melihatnya setelah tujuh tahun dia meninggalkanku. Aku telah berjanji untuk menggenggam erat tangannya dan takkan mungkin kulepas jika aku bertemu denganya, namun entah kenapa tanganku terasa mengeras dan takdapat kugerakkan ketika dia kembali meninggalkanku. Tuhan aku tak dapat meraih tangannya, aku akan kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya aku akan kehilangannya. aku tersadar saat hpku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk saat kulihat ternyata Shin Hae dalam pesannya dia mengatakan jika Hyo Jin sedang ada dikampus dan sepertinya dia sedang berpamitan untuk pergi. Tak membutuhkan waktu yang lama aku langsung berlari dan menghidupkan motorku kutarik gas motorku sekencang mungkin.
“aku tak ingin membelakangimu”
Kata-kata itu terngiang ditelingaku, bahkan raut wajahnya ketika mengucapkan itu aku masih merekamnya di dalam benakku. Kuparkirkan motorku dan dengan segera aku berlari ke gedung Agronomi tempat dimana Hyo Jin berpamitan. Saat aku tiba dan melihat Hyo Jin air mataku tak dapat lagi kutahan, ku perlambat jalanku dengan nafas yang belum teratur kudekati Hyo Jin.
“kau..kau benar akan pergi? lagi?” tanyaku dengan tubuh yang bergetar
“...”dia tak mengeluarkan suara hanya anggukan
“kau bilanga kau tak suka memperlihatkan punggungmu?”
“aku tak pernah memperlihatkan punggungku, karena aku akan membiarkan mu pergi terlebih dahulu, Pergilah, karena aku takkan pernah ingin membelakangimu”
“apa jika aku tak pergi kau juga takkan jadi pergi? kalau memang begitu baiklah aku takkan pernah pergi dari sini”
“kau harus pergi langit terlihat mendung dan hujan akan turun, pulanglah! Aku tak ingin melihatmu sakit”
“Hyo Jin-ah kau bahkan membuatku sakit sekarang, tapi kau terlihat baik-baik saja. Kau tau betapa sakitnya aku sekarang? Kau takkan pernah tau dan takkan pernah mau tau. Takdir? Jodoh? Kau membodohiku Angga, kau tak pernah menginginkannya. Kau hanya menganggapku anak kecil. Iyakan? Jawab Hyo Jin apakau tuli sekarang HAH...”
“kumohon pulanglah.. sekarang sudah mulai hujan, kau akan demam” rayunya padaku sambil menggenggam tanganku
“tak bisakah kau menggenggamku seperti ini? Ini membuatku nyaman Hyo Jin”
“dengar Hye Rin-ah suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Percayalah”
“aku tak perlu suatu saat, aku perlu sekarang juga. Tak bisakah kau mengabulkannya Hyo Jin? Aku mohon tetap lah disini”
“sudahlah pulang... hujan semakin lebat.. aku juga akan pulang” katanya dengan sedikit berteriak karena suara hujan yang lebat
“aku tak ingin pergi.. aku ingin disini.. aku ingin disini agar kau tak jadi pergi”
“terserah padamu Hye Rin aku sudah berusaha, semuanya terserah padamu sekarang” setelah mengucapkan kata-kata itu dia beranjak meninggalkanku. Kini aku tak sanggup lagi menompang tubuhku, semuanya terasa berat kujatuhkan tubuhku ketanah. Sekarang aku benar-benar tak ingin beranjak dari sini.


Kau tau punggung yang tak pernah ingin kau perlihatkan padaku, kini aku melihatnya..aku melihatnya ketika kau pergi untuk yang kedua kalinya, kulihat punggungmu dengan sangat jelas walau air berusaha menutupinya. Hyo Jin-ah kau pergi saat aku dalam ke adaan berantakan, kau pergi saat aku sedang tenggelam dalam sebuah kesedihan. Bahkan jika aku merengkuhmu akankah aku dapat menangkapmu. Kau terlalu licin untukku rengkuh, kau tak bisa diam saat kau berada ditanganku hingga aku kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Dan ketika cintaku lepas untuk yang kedua kalinya, aku takkan berusaha untuk mengejarya karena akan terlalu sulit. Air bantu aku untuk benar-benar melapasnya dan jika tetap tak bisa kulepas kembalikan dia seutuhnya. bulan jika gelap berusaha menghalangi langkahnya menuju ke arahku tuntun dia hingga dia kembali padaku, walau aku tak tau apa hatiku masih untuk nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar